Karena rasa tak selalu harus diungkapkan.
Awkward Moment....
Tiba-tiba saja Rani merasa salah tingkah, dengan sedikit tergesa dia berjalan menuju sudut lain. Dia tidak tahu harus kemana, mungkin mengambi makanan, mencari toilet atau mungkin menuju kerumunan tamu undangan yang datang di acara launching product salah satu client-nya tersebut. Rani hanya bingung karena tidak siap untuk berbincang dengan Raditya. Tiba-tiba saja dia ingat bagaimana pertama kali berkenalan dengan Raditya.
Saat itu, Rani sedang mendapatkan proyek pertamanya untuk peluncuran product baru untuk sebuah perusahaan besar. Ini adalah kesempatan yang akan menambah portfolio perusahaan marketing dan brandingnya. Untuk proyek besar ini tentu saja Rani butuh tempat yang berkelas, punya nama akan tetapi tetap harus sesuai dengan budget karena untuk mendapatkan proyek ini dia harus berani memberi harga di bawah semua kompetitor yang hampir semuanya berpengalaman dalam peluncuran product untuk client-client besar.
Dalam kegundahan, dia memposting pencarian tempat dengan kualifikasi tersebut di sebuah sosial media profesional. Dan Raditya adalah seorang owner hotel bintang 5 di kotanya, dia memberikan komentar di postingannya, menawarkan hotelnya dan memberikan kontak marketing hotelnya. Mengetahui hal tersebut, Rani sedikit minder karena pasti harga di hotel tersebut tidak murah dan dia mengungkapkan rasa terima kasih juga penghargaan atas niat baik Raditya namun dia tidak bisa menjangkau cost untuk peluncuran product tersebut di hotel tersebut dengan alasan kalau perusahaan milik Rani adalah perusahaan kecil yang sedang berkembang. Tidak di sangka Raditya mengirimkan pesan private dan mengatakan akan membantu tanpa tahu apa motivasi Raditya membantunya Rani menerima bantuan tersebut. Dan akhirnya, acara launching itu sukses besar. Berawal dari situ, rani jadi sering memakai hotel Raditya untuk acara peluncuran product client-clientnya yang lain.
Berawal dari situ, Rani sering mengobrol lewat sosial media tempat mereka bertemu. Tapi, mereka belum pernah bertemu sampai pada malam ini.
Rani, tidak tahu kenapa dia harus gugup padahal biasanya mereka bisa bercanda santai, mengobrol masalah bisnisnya, ekonomi dan juga hal-hal ringan lainnya. Tidak ada hal-hal personal yang seharusnya membuatnya gugup. Akhirnya dia menarik nafas dalam, mencoba menetralisir perasaannya, meyakinkan dirinya kalau dirinya gugup karena Raditya adalah pemilik hotel bintang 5 yang selama ini sudah memberikan bantuan padanya, meskipun sekarang posisinya Rani tidak lagi mendapatkan harga super miring melainkan harga VIP karena sudah sering memakai Hotel tersebut sebagai tempat peluncuran product milik clientnya.
Akhirnya Rani mengumpulkan keberanian untuk menyapa duluan, karena rasanya tidak sopan jika dia akan berpura-pura tidak tahu ada Raditya di sana lalu pura-pura menyapanya. Dia tidak mau memberikan kesan tidak sopan tersebut.
Rani mendekati Raditya, dia terus berdoa dalam hati mengatasi kegugupannya. Pelan dan dengan suara lirih dia menyapa Pak Raditya yang terkenal dan hanya di kenalnya lewat sosial media.
"Selamat malam, Pak. Apa kabar?"
Lirih suara Rani sambil tersenyum dan mengulurkan tangan. Raditya membalikkan badannya pelan, dia ragu menyambut uluran tangan Rani, bibirnya menyunggingkan senyum manis.
"Mbak Rani...akhirnya kita bertemu, apa kabar? Rasanya seperti mimpi lho.... "
Sambutnya. Rani bingung mau menimpali dengan kalimat apa, akhirnya dia hanya tersenyum. Raditya menpuk punggung tangan Rani dengan tangan kirinya dan tanpa disadari menggenggamnya erat, lalu Rani menariknya pelan.
"Sudah lama di sini, Pak? Kapan pulang dari luar negeri?"
Akhirnya dia menemukan kalimat untuk memecahkan rasa canggung. Raditya tersenyum manis.
"Lumayan, cuma dari tadi saya nyari-nyari Mbak Rani kok ga ketemu. Saya ini tadi dari bandara langsung kesini. Karena kalau harus pulang dulu takut telat, jalanan macet terus sekarang"
Raditya menjawab jujur. Lalu mereka hanya saling lempar senyum, sampai akhirnya Rani menemukan kalimat lain agar suasana tidak kaku.
"Saya sangat berterima kasih sekali atas bantuan Bapak selama ini, kalau saat itu tidak Bapak tolong sepertinya ga mungkin saya bisa seperti sekarang ini. Makasih sekali lho, Pak. Saya nggak tahu bagaimana membalas kebaikan Bapak"
Aku Rani panjang membuat Radit tersenyum, lalu menggeleng.
"Nggak-lah, Mbak. Lha yang kasih harga khusus kan marketingnya dan saya juga ga tahu apa-apa"
Raditya menimpali, Rani tersenyum. Kemudian suasana kaku lagi karena mereka hanya bertukar senyum. Rani pun merutuk dalam hati, kapan kekakuan ini berakhir, dia ingin sekali segera keluar dari suasa seperti ini. Orang berseliweran tidak ada yang menghampiri mereka, paling tidak ada yang masuk di antara mereka, lalu suasana jadi lebih cair.
"Jadi, Mbak Rani sudah cocok dong ya dengan hotel kami sebagai tempat launching?"
Menyadari kekakuan tersebut kini Raditya yang berusaha memecah kekakuan. Bodohnya, Rani hanya mengangguk dan tersenyum. Sungguh, ini bukan dirinya. Rani bukan type orang yang malu-malu dan berlidah keluh saat mengobrol dengan siapapun karena sudah menjadi pekerjaannya bicara dengan berbagai macam orang dari berbagai macam kalangan.
Akhirnya, awkward moment berakhir di saat assisten Rani memanggil karena ada calon client yang ingin berbicara dengannya. Rani berpamitan pada Raditya sambil dalam hati bersyukur dan berterima kasih pada Sita, asistennya.
Sementara Raditya menatap punggung Rani yang sudah menghilang di balik kerumunan. Kemudian, dia mencari temannya yang tidak lain adalah client Rani yang mengundangnya ke acara tersebut untuk berpamitan karena dia harus pulang. Ada rasa rindu pada Bunga, anaknya yang sudah mulai masuk TK itu karena satu minggu lebih tidak ditemuinya.
Dalam perjalanan pulang, pikiran Raditya hanya tertuju pada Bunga.
Sedang Rani, dalam perjalanan pulang seperti biasa suaminya selalu berusaha menjemput agar mereka selalu ada waktu berdua untuk mereka. Mereka saling bertukar cerita tentang pekerjaan mereka, tertawa. Usia perniakhan mereka sudah 4 tahun akan tetapi mereka belum mendapatkan momongan, bukannya tidak berusaha akan tetapi sepertinya Tuhan belum percaya saja memberikan momongan pada mereka berdua. Rani menceritakan semua kejadian yang dialaminya di acara peluncuran kecuali awkward moment yang terjadi antara dirinya dan Raditya.
Jika ada pengecualian
Setelah acara peluncuran itu, Raditya masih mengirimkan pesan ke Rani. Dalam pesannya dia mengatakan senang bertemu dengan Rani dan dalam kesempatan lain ingin bertemu kembali. Rani menganggap itu sebuah bosa-basi dan diapun mengatakan hal yang sama bahwa dia juga akan senang jika bisa berkesempatan bertemu kembali dengan Raditya. Dan,.....hey, tidak ada rasa canggung saat harus bercakap-cakap lewat chatting. Rani mulai berpikir jangan-jangan dia memiliki kelainan yaitu tidak mampu berkomunikasi verbal dengan lawan bicara, bisanya hanya lewat tulisan. Tapi, jika memang iya kenapa hanya terjadi dengan Raditya.
Di meja kerjanya, Raditya tersenyum menatap layar laptopnya. Dia pun mulai berpikir keras ingin menyusun pertemuan yang lebih santai dan membuat mereka berdua lebih nyaman. Bagaimana agar pertemuannya itu bisa lebih casual dan santai seperti saat mereka ngobrol lewat chat.
Lamunan Raditya tentang sebuah rencana pertemuan casual dengan Rani terpecah saat HP-nya berdering, dari HP istrinya ada pesan kalau dia dan anaknya sudah menunggu dan siap untuk makan siang bersama.
Di kantornya, Rani dan Sita siap-siap ingin makan siang bersama di luar sepulang makan siang mereka ada meeting dengan client.
Comments
Post a Comment